Menyikapi kesalahan sururiyah (aqidah nya ahlu sunnah tapi terpapar manhaj ikhwani sadar ataupun tidak)
tidak lah sama saat kita Menyikapi ahlu bidah (ahlu kalam, khowarij, syiah, bathiniyah, shufi, dll)
Sikap yang benar adalah seperti kepada saudara kandung yang melakukan kesalahan: dengan lemah lembut, hikmah, kasih sayang, nasehat, dan peringatan yang baik
bila harus menghujat keras maka fokuskan pada syubhat, kesalahan, dan penyimpangannya, bukan pada personal nya
Terlebih lagi bila personal tersebut lebih terkenal dekat dengan sunnah (lebih banyak salafinya daripada ikhwaninya), atau penyimpangan tsb msh samar, salah paham, atau pendapat lama yg sdh tdk diyakini lagi, maka tentu kita harus bijak dalam menyikapi
Apalagi bila punya track rekord belajar dari ulama2 ahlu sunnah, dan ada syahadah dan tazkiyah dr ulama lain, tapi mngkin ada kesalahan yg msh ambigu dan samar terkait dirinya, belum lg gejolak politik yg tdk stabil terkadang bisa mempengaruhi pendapat seseorang (lihat bgmn sikap para ulama ahlu sunnah di jaman makmun saat dipaksa meyakini alQur'an makhluk)
Ingatlah kawan, ulama islam sudah sangat sedikit, yang ahlu sunnah juga sangat sedikit, tentunya tidak semua maksum benar2 bebas dari kesalahan
Imam al-Dzahabi rahimahullah berkata dalam biografi: Ali bin Muhammad bin Habib, al-Qadhi Abu al-Hasan al-Bashri al-Mawardi, seorang faqih dari mazhab Syafi'i [wafat tahun 450 H]:
"Saya katakan: Bagaimanapun juga, meskipun terdapat bid’ah dalam dirinya, ia tetap termasuk ulama besar. Seandainya kita mengabaikan (meninggalkan) setiap ulama yang tergelincir, niscaya hanya sedikit yang tersisa bersama kita. Maka, wahai saudaraku, janganlah merendahkan ulama secara mutlak, dan jangan pula berlebihan dalam memuji mereka. Aku memohon kepada Allah agar mewafatkanmu dalam keadaan bertauhid."
[Sumber: Tarikh al-Islam, jilid 9, halaman 751].
Ustadz lutfi setiawan