Abu Muhammad Abdul Ghani Al-Maqdisi, salah satu imam salafi besar di abad keenam hijriah, pernah mengajak muridnya keluar. Keduanya kemudian singgah di satu tempat di dekat sungai yang kebetulan di situ ada biara Yahudi.
Imam Abdul Ghani duduk-duduk di pinggir sungai, sementara muridnya itu datang ke biara Yahudi dan mengetuk pintu. Sepertinya ia bermaksud untuk mendapatkan sedikit suguhan dari penghuni biara.
Keluarlah rahib Yahudi di pintu biara, kemudian menanyakan apa agama dari murid Imam Abdul Ghani itu dan siapa panutannya. Ia menjawab bahwa agamanya adalah Islam dan panutannya adalah Nabi Muhammad.
Si rahib pun minta agar diberi cerita dan penjelasan soal sejarah dan profil Nabi Muhammad. Ternyata, muridnya Imam Abdul Ghani tidak bisa menjelaskan. Maka rahib mengatakan bahwa dia tidak akan menjamunya.
Si murid pun pergi ke Imam Abdul Ghani dan menyampaikan apa yang barusan tadi dikatakan oleh si rahib. Maka sang imam pun menyampaikan biodata Rasulullah secara singkat dan padat. Si murid menyimaknya dengan saksama.
Lantas, si murid datang lagi ke si rahib dan menjelaskan biodata Rasulullah kepada si rahib. Si rahib berkomentar, "Ini sih bukan dari kamu, tapi dari orang (di pinggir sungai) itu!" Akhirnya, si rahib itu dipertemukan dengan Imam Abdul Ghani Rahimahullah.
Ujungnya, si rahib pun masuk Islam. Luar biasa! Atau bukan luar biasa, melainkan sudah biasa, sebab hati yang terbuka akan langsung terkesima manakala ia mulai mengenal manusia yang paling mulia dan istimewa tersebut. Wallhamdulillah.
Mengenal Rasulullah ﷺ, di samping mengenal Allah Ta'ala dan mengenal Islam, itu penting dan menarik. Bahkan sangat urgen dan teramat menyenangkan. Apalagi kalau kita bukan hanya mengenal, melainkan juga pandai mengenalkannya ke orang lain.
Apa lagi kenikmatan hidup ini yang lebih manis dari tiga pengenalan tersebut beserta turunannya?
Tidak ada.
Ustadz nidlol mas'ud babanya sofia