Ketahuilah bahwa kebutuhan seorang hamba untuk menyembah Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dalam cinta, takut, harapan, tawakal, amal, sumpah, nazar, ketundukan, pengagungan, sujud, dan pendekatan diri, adalah jauh lebih besar daripada kebutuhan jasad terhadap ruhnya dan mata terhadap cahayanya. Bahkan, kebutuhan ini tidak memiliki bandingan yang dapat diukur. Hakikat seorang hamba adalah hatinya dan ruhnya, dan tidak ada kebaikan bagi keduanya kecuali dengan Tuhan mereka, yaitu Allah yang tiada tuhan selain Dia. Hati tidak akan tenang di dunia kecuali dengan mengingat-Nya. Hati itu bekerja keras menuju-Nya dengan sungguh-sungguh hingga menemui-Nya, dan pasti akan bertemu dengan-Nya. Hati tidak akan menjadi baik kecuali dengan mencintai-Nya, mengabdi kepada-Nya, mendapatkan keridhaan-Nya, dan menerima kemuliaan dari-Nya.
Seandainya seorang hamba memperoleh kenikmatan dan kebahagiaan dari selain Allah, maka itu tidak akan bertahan lama. Ia akan berpindah dari satu jenis kenikmatan ke jenis lainnya, dari satu orang ke orang lainnya, menikmati sesuatu di satu waktu, lalu tersiksa olehnya di waktu lain, dan hal ini pasti terjadi. Seringkali, sesuatu yang ia nikmati dan rasakan lezat itu ternyata bukanlah sumber kebahagiaan dan kenikmatan sejati baginya. Bahkan, kehadirannya dapat menyakitinya, membahayakan dirinya, atau memberikan mudarat. Apa yang ia rasakan dari kenikmatan dengan berhubungan dengannya hanyalah sejenis kenikmatan sementara, seperti seseorang yang menggaruk gatal pada kulitnya. Garukan itu mungkin memberikan sensasi nikmat, tetapi pada saat yang sama melukai kulit, membakar, dan memperparah kerusakan, meskipun ia tetap memilih menggaruk karena adanya sensasi nikmat yang dirasakannya.
Begitu pula apa yang dirasakan oleh hati dari mencintai selain Allah, pada hakikatnya adalah siksaan, bahaya, dan rasa sakit. Kenikmatan itu tidak lebih dari kenikmatan sementara seperti menggaruk kulit yang gatal. Orang yang bijaksana akan menimbang kedua hal tersebut dan memilih mana yang lebih berat dan lebih bermanfaat. Allah-lah yang memberikan taufik, pertolongan, dan memiliki hujjah yang sempurna sebagaimana Dia juga memiliki nikmat yang melimpah.
Ustadz noor akhmad setiawan